Mimpi Pertama di Tahun 2022

 


"I tought getting married early is my best revenge."


Mobil putih bertumpangkan tiga orang ditambah satu kemudi melaju perlahan membelah jalanan pagi yang masih lengang. Aku mengenakan gaun putih yang nampaknya membalut cantik tubuhku. Hari ini hari pernikahanku, tapi entah apa rasa-rasanya aku tak mau tahu siapa yang akan memperistriku. Hari-hari ini rasanya kosong. Ya, lamarannya sudah kuterima sejak seminggu yang lalu tapi tebak, namanya saja kini aku tidak tahu. Aku tidak tahu nama pemuda itu. Aku tanya ibuku siapa nama calon suamiku. Tetap saja, namanya hanya berlalu di telingaku. Namun aku rasa aku punya sedikit ketidakcocokkan dengan orang itu. Ya, sedikit, hanya benih-benih tapi itupun karena aku tak mengenalnya lebih jauh.

Mobilku terus melaju, membawaku semakin dekat dengan venue pernikahanku. Aku bingung, kenapa baru sekarang otakku merespon bahwa ini hari pernikahanku dan aku tak seberapa tahu tentang dia yang akan berdiri di sebelahku nanti hingga kelak akhir helaan nafasku. Gawat.




Segera, setelah masuk gedung hari pernikahanku aku bertanya pada mereka sekenanya: dimana yang lainnya berada sebelum semua ini terlaksana. Termasuk calon suamiku. Tiba di lantai dua, aku hanya menemukan beberapa orang, tertidur dan nampaknya tak ada calon suamiku. Kini aku dengar namanya Raihan, nama yang berbeda dengan yang terbesit di kepalaku saat aku sedang berada di dalam mobilku. Tetap saja, aku tidak mengenal baik Raihan dan bagaimana aku ikhlas menyerahkan sebagian hidupku padanya. Mata dan otakku terus berputar mencari cara bagaimana menjelaskan pada orangtuaku bahwa ini bukan hari pernikahan yang ada di benakku. Sekilas, kulihat pantulanku dari cermin panjang di hadapnku. Gaun itu membalut cantik tubuhku, berwarna putih dari dada hingga menyapu lantai gedung itu. Sedikit bahan transparan membalut bagian atasnya namun tetap terlihat warna asli kulitku. Cantiknya tak cocok dengan isi kepalaku yang bingung. Linglung.


Akhirnya aku berhasil menemui ibuku. Kusampaikan maaf dan akal bodohku yang mau-mau saja hingga hari ini terlaksana dengan seijinku.  

"I tought getting married early is my best revenge (aku kira menikah secepat mungkin adalah balas dendam terbaikku) and that's all."

Hanya jawaban itu yang muncul di benakku sambil aku mengalihkan pandangku memutari sekeliling ruangan. 

"Maaf, untuk semuanya dan aku tak bisa melanjutkan hari pernikahanku bahkan hidup bersama dengan orang yang aku tak tahu apakah dia mencintaku. Apalagi aku." 

Aku tahu. Keputusan tanpa disertai solusi tidak akan datang sebagai sebuah pilihan bagi kami.
 
"Lakukan secantik mungkin, sehingga orang-orang tak tahu bahwa kau telah mengatakannya. Sehalus mungkin hingga mereka menyadari bahwa kau telah membatalkan pernikahannya."

Baik, permohonan ibuku terdengar tak sulit bagiku yang sudah sering menampilkan sesuatu dan kini harus di hari (yang tak jadi) pernikahanku. 

Turun ke lantai satu. Kutemui ibu yang akan (tak) menjadi calon mertuaku. Mereka sedang menikmati sebuah hidangan, bercakap-cakap hingga hadirku disadari sebagai calon anggota keluarganya yang baru. Pandangannya hangat menerimaku. Langsung saja, kutanya susunan acara pernikahanku. Mataku menyusur cepat kertas yang seketika sudah ada di tanganku. Wedding vow, ya aku harus membatalkannya sebelum hal itu terjadi. Kuingat lekat-lekat jamnya. Lalu aku kembali sembari sekilas menatap orangtua yang tak akan menjadi mertuaku. 

Di tengah perjalanan, saat aku berada di tangga aku melihat Fay, temanku yang nampaknya kini menjadi salah satu bagian orang penting yang mengurus makanan di hari pernikahanku. Kudengar bahwa yang akan menikahiku adalah orang kaya yang pernah satu kelas dengan kami. Siapa? Payah, bahkan di jam-jam menuju pernikahanku aku dan ibuku tak berhasil tahu persis siapa nama pemuda itu. Gila, ini aku yang sudah lama tenggelam dalam lamunan tidurku dan kini aku juga yang harus membereskan semua mimpiku.

Nampaknya aku benar-benar tertidur dalam mimpiku. Kini kutemui seseorang yang nampaknya berbaju cocok dengan perangaiku. Hans. Ternyata dia bernama Hans. Gila, pikirku. Sama saja, aku tak mengenalnya. 

"Apa kau mencintaiku?"
Tanyaku begitu saja dari balik punggungnya tanpa perlu perkata ba-bi-bu. Lintasan peristiwa berlalu seakan aku tahu, ini tidak akan menjadi hari pernikahan bagi kami.

Kini lampu gedung mulai dimatikan, aku tahu kini tiba saatnya giliranku. Aku harus mengalihkan perhatian hingga seluruh orang datang ke tempat dimana seharusnya aku mengucapkan janji pernikahanku. Entah bagaimana, kubawa lampu yang memecah gelap hingga semua orang menuju ke tempat itu.



Tentang Dido dan Caca (jauh sebelum kejadian di kedai kopi Malioboro)

 "Hey.. kamu di rumah, kan?"

"Hah? Iya?" Kataku gelagapan, karena di luar hujan dan sekarang sudah ada Dido berdiri di depan rumahku


"Kamu.. Kok ga ngasih tahu kalau mau mampir!!"

"Ah aku tadi juga gaada niatan cuma abis dari rumah Dea aja.. Eh trus keujanan yaudah deh ke sini."


"Ohh jadi abis dari Dea" kataku sambil menyenggol badan Dido, lucu


"Terus apa katanya?" Tanyaku tiba-tiba

"Ha katanya gimana?" Jawab Dido sedikit tergagap


"Lu mau ngapain lagi di hari ulangtahunnya Dea, kalau ga ngucapin ulangtahun, beliin sesuatu. Alah.. Udah ketebak lagi Did kelakuan lo hahah"


"Ah sial, Lu, Ca"

"Hm.. iya trus gimana, Did? Berhasil?"


"Berhasil apanya woy, Ca??" Kata Dido tidak ingin mengatakan sejujurnya walau ia sudah tahu kemana arah perbincangan ini menuju..


"Balikan kagak?"


"Nahh itu dia, Ca.." Kata Dido sengaja menahan kalimat akhirnya 


Kuberi jeda pada Dido agar dia melanjutkan perkataannya bila dia memang ingin. 


"Katanya sih susah, Ca. Buat bukain pintu lagi.."


"Hemm ya lagian Lu sih.."

"Ah gatau deh rumit, Ca.."


"Kayaknya kalau diluar ga tiba-tiba ujan, lu gamungkin inget gue kali ya, Did!"


"Hahahaha" Ketawa Dido seakan mengiyakan. Ingin rasanya kulempar Dido dengan bantal kursi tapi rasaya lebih cocok kalau dilempar sekaligus kursinya saja. Hahaha dasar tamu yang tidak tahu diri.


_________________________

Sejak dulu Caca memang selalu menjadi tempat Dido pulang setelah dari patah hati satu ke patah hati yang lainnya.



Pertunjukan Sirkus Terbaik

 

Pertunjukan Sirkus Terbaik

          Lima dari tujuh hari dalam seminggu selalu kami habiskan untuk berlatih. Mulai dari hal-hal yang tanpa perlu tenaga hingga gerakan-gerakan yang membutuhkan perhatian yang lebih ekstra. Bagian termudahnya adalah hanya dengan berdiri kemudian semua mata mulai memandangi kami. Tak perlu tunggu waktu lama, riuh tepuk tangan mereka saling memburu sambil sekali-dua kali mereka berdecak. Kagum, pikir kami.


          Perkenalkan, Aku Clara. Nama yang ibuku berikan sejak aku berumur 2 tahun. Aku terbiasa menjadi pusat perhatian sejak kecil. Tak khayal ibu memberiku nama “Clara” yang berarti terang, terkenal, ah apapunlah itu, terserah ibu saja. Semakin besar tugasku semakin ringan. Hanya mengajak teman-temanku berdansa mengelilingi kebun bunga yang sudah kami set sedemikian rupa. Namun rasanya setiap pertunjukan dimulai aku yang paling tidak bahagia.  Mari, kuajak kalian berkenalan dengan teman-temanku!


          Namanya Pak Edu, kami semua sudah menganggapnya Ayah. Bagaimana tidak, kami atau lebih tepatnya beberapa diantara kami tidak pernah tahu bagaimana rupa orangtua kami. Yang kami tahu Pak Edu selalu mengajari kami ‘tuk bersikap ramah, ringan tangan kepada sesama, dan tidak boleh berbohong. Hangat matanya sudah cukup membuat kami lupa kalau kami tidak pernah merasakan rumah.


          Kalau yang ini namanya Lily. Nama yang indah bukan? Indah sebelum kalian tahu mengapa kami memanggilnya Lily. Lily terlahir dengan 4 tangan dan 4 kaki, sehingga kali pertama kami melihatnya menangis sambil menunjukan kaki dan tangannya, kami selalu teringat akan bunga Lily yang baru saja lepas dari kelopaknya. Ditambah lagi dengan kulit Lily yang berwarna kuning bersih, semakin membuatnya cantik, persis seperti bunga Lily. Dia lah salah satu orang yang kuceritakan paling mudah mendapatkan riuh tepuk tangan. Orang-orang berdecak melihatnya karena ia berbeda. Tapi kami selalu berkata bahwa mereka menepuk tangani Lily karena Lily hebat. Tak banyak orang yang mau memiliki tubuh seperti Lily, walau tahu akan selalu ditepuk tangani.


            Berikutnya adalah Dudu. Ia berusia 5 tahun lebih tua dariku, tapi ia tidak pernah mau kalau kupanggil kakak. Menurut kami, tugas Dudu lebih ringan daripada kami semua. Bagaimana tidak, ia selalu mengenakan make-up tebal, lengkap dengan lipstick berwarna merah yang sengaja dilebarkan dan ditarik ke atas. Tentu nanti kau akan tahu bahwa make-up yang dipakainya lah yang meperingan tugasnya. Setidaknya setiap kali ia harus tampil di atas panggung. Dan teman-temanku yang lainnya, mungkin tak akan bisa lengkap kusebutkan. Separuh dari mereka berusia dibawahku dan sisanya, setidaknya berusia seperti aku dan Dudu.

          Malam ini seperti biasa, setelah kami merasakan suasana di kota baru selama 2 hari, esok hari kami harus beratraksi lagi. Pak Edu selalu mengingatkan kami untuk menyalakan tombol itu ketika nanti kami naik ke atas panggung. Dan setelahnya? Pak Edu membiarkan kami memilih untuk mematikannya atau tidak. Namun biasanya kami memilih untuk tetap menyalakannya. Sudah terbiasa.

          Seperti biasa, nanti aku akan memulai pertunjukan sirkus dengan bernyanyi. Kemudian dilanjutkan dengan berlari-lari, tentunya tak lupa mengajak teman-teman kecilku untuk untuk menari bersama. Ups, aku lupa teman-teman kecilku sebenarnya berusia sama sepertiku, hanya saja tubuhnya membuat kami selalu memanggilnya kecil. Setiap tirai akan ditutup, kami pastikan riuh penonton selalu memenuhi ruangan. Jujur, aku tidak pernah tahu mengapa mereka bisa tertawa. Apakah karena pertunjukan sirkus kami? Atau aku curiga mereka hanya sedang menertawai keadaan kami yang berbeda yang tidak seberuntung mereka. Mungkin mereka tenggelam dalam kepuasan dan disinilah mereka merasa lebih unggul, lebih bahagia, dan lebih apapun daripada kami.

          Lain lagi kalau aku bertanya pada Dudu. Setiap kali naik ke atas panggung, aku yakin tidak pernah melihat Dudu tersenyum. Tapi sekembalinya dari menghibur penonton, ia selalu tersenyum. Bahagia karena sudah menjadi alasan oranglain untuk berbahagia, katanya. Ah, setidaknya aku sedikit benar. Make-up tebal itu selalu membantunya terlihat lucu walau ia belum menarik bibirnya ke kanan dan ke kiri sepanjang 2 cm dan menahannya dalam 7 detik seperti ajaran Pak Edu.

          Pada akhir pertunjukan aku akan tampil lagi, kali ini mengelilingi set istana dengan teman-temanku di belakangnya. Bersyukur karena tinggal di istana dengan suguhan pertunjukan yang tidak biasa, setidaknya pembawaan itu yang harus kutunjukkan di bagian akhir acara. Ah, sial, semua ini palsu. Senyum yang tersungging di wajah teman-temanku tidak pernah berarti sesederhana itu. Apalagi bagi Lexis, pertunjukan sirkus sudah seperti ajang untuk menantang malaikat pencabut nyawa baginya. Bagaimana tidak, ia harus bergelantungan dari cincin satu ke cincin lain dan ditutup dengan masuk melewati sebuah cincin yang berukuran lima kali lebih sempit dengan api menyala-nyala yang siap menghanguskan tubuhnya. Ya, semua ini palsu, kecuali rasa sykurku memilki mereka.


          Ingatkah kau tentang tombol yang selalu diingatkan oleh Pak Edu? Tombol itu adalah perasaan sedih, kecewa, tidak diterima, dan berbeda. Kami selalu dibiasakan untuk menyalakan tombol tersenyum, bahagia, dan tertawa setidaknya setiap kali kami akan naik ke atas panggung. Akibatnya apa? Kami lupa kapan kali mengganti tombolnya ke mode sedih dan kecewa. Kami lupa kapan kali terakhir kami bersedih karena orang-orang memandangi kami lebih lama. Yang kami tahu, kami selalu berhasil membuat mereka tertawa. Dan sekali lagi, aku berdoa, andai aku diberi make-up tebal seperti Dudu. Rasanya aku tak perlu menganggap tertawa adalah beban,

          Pertunjukkan esok malam, akan menjadi pertunjukan terakhir kami di tahun ini. Pak Edu memberikan kami ekstra snack, agar kami lebih semangat berlatih katanya. Namun rasanya kami sudah mulai besar. Walau sudah terlalu lama tumbuh dengan perasaan palsu seperti ini, rasanya aku, Lily, Dudu, dan Lexis belum kehilangan nalar waras kami. Tawa-tawa kami semakin mengeringkan tulang kami sendiri. Menantang maut dan menjual diri sepanjang tahun rasanya tidak pernah sebanding dengan mereka yang duduk sekali, tertawa, kemudian pergi. Kami ingin bersedih. Tapi kami sudah kehilangan cara untuk memeluk semua rasa itu kembali. Muka kami sudah teralu tebal. Kami kira menertawai adalah bagian dari cara mereka menghargai kami, sampai kami lupa seberharga apa diri kami sendiri.

          Kini setelah kami tertidur sekali lagi. Membiarkan pagi menjadi malam hari. Kami akan memulai sejarah baru kami. Tidak ada lagi pertunjukkan Lexis masuk ke dalam cincin api atau Lily yang berjalan sambil membentuk tubuh seperti sebuah meja kayu. Tidak ada lagi nyanyian cemerlang Clara, atau riasan tebal di wajah Dudu. Malam ini, kami mencoba menjadi diri kami sendiri. Tidak ada lagi riuh tepuk tangan yang memenuhi ruangan. Semua penonton kecewa, tetapi disaat inilah kami mulai menemukan keberhargaan. Hari ini Clara tak tertawa, tapi aku berbahagia.    


Biar Kunamai, Rindu


Biar Kunamai, Rindu (13/07/17)



Seperti biasa,
Malam harus mengalah kepadanya
Larut sudah namun ia tetap terjaga
Tangannya masih saja meraba ragu
Entah sudah berapa kali ia menguap
Mengusap kedua bola mata yang beberapa kali mengatup

Tak juga ia sadar,
Rupanya diam bukan selalu berarti aman
Hatinya gusar,
Menunggu kabar

Entah siapa yang ditunggu
Jari-jemarinya mulai menekan ragu
Antara ragu dan tidak mau

Kali ini cangkirnya ia biarkan penuh
Terlanjur abai tak ia sentuh
Kafeinnya terlalu rendah
Untuk membuatnya bermimpi indah
Dan hangatnya terlalu dingin
Untuk membuatnya ingin

Kali ini semua rasa seakan teraduk dalam satu cangkir kopi
Membiarkan semua terkulum dalam sekali minum

Ah berantakkan sudah
Entah semua terkesan tak lagi mudah
Ketika rindu dibalas dengan “aku juga rindu”
Bukan lagi bertemu.

Kedai Kopi

"Hey.... Ca, Ca... Lu nggapapa,Ca?"
Kedua matanya menerawang jauh, menelisik satu per satu kedai yang mulai meremang di sepanjang Jalan Malioboro. Ia coba memandang, menembus gerimis, seolah bisa melihat jelas cahaya dari balik kaca mobil yang mulai berembun.

"Eh.. Iya, nggapapa, kenapa?" jawab Caca seadanya, setelah tubuhnya beberapa kali digoyang-goyangkan oleh Rein. 

"Harusnya kita tau, Ca, yang tanya Lo kenapa. Lo tau nggak sih, kita udah takut aja Lo ketempelan abis dari alun-alun tadi. Lu nggapapa Ca? Lu laper lagi?"

"Ha? Nggak.. Eh gausah.."
Terlambat. Mobil Mini Cooper Bimo sudah berbaris diantara celah-celah mobil lain di sisi belakang Jalan Malioboro.

Kiara sengaja melingkarkan tangan kanannya ke tangan kiri Caca.

"Ca lo nggapapa? Cerita sama gue deh Ca.."

Lama Caca menatap mata Kiara dalam, sebelum ia menyebutkan nama seseorang yang jelas-jelas dikenal Kiara.

"Dido, Ra."

"Lo mau makan apa, Ca? Ketan bubuk? Ketan durian? STMJ?" tanya Kiara seolah tak mendengar jawaban Caca, tepat di depan kedai kopi sederhana yang ramai pemuda pemudi yang saling tenggelam dalam percakapannya.

"Lo kenapa, Ca? Dido lagi?" tebak Bimo dengan tatapan kasihan.

"Udah lah Ca, lagian ngapain mikirin Dido.. Lagian dari dulu dia masih Dido aja... Kapan Dire nya apalagi Difa? Hahahaha"

Kali ini tidak ada yang menertawai candaan Rein. Keterlaluan, semua menatap Rein. Hambar, tidak lucu.

"Ca dengerin gue. Kejadian itu kan udah taun lalu. Dan lo sendiri yang udah janji sama kita gabakal inget inget Dido lagi kalau kita ke kota ini."

"Mungkin nggak sih, Ra, kalau Dido ada di sekitar sini." jawab Caca datar seolah menganggap angin lalu semua nasehat mereka.

Satu tahun memang tidak sebentar tapi tidak cukup rasanya melupakan Dido bagi Caca.

"Lo gila, Ca."

"Rein..." balas Kiara sambil menatap Rein tajam.


°°°°°°°°°°°°°

"Do gua udah di sini nih... Lu dimana?"

"Gua di belakang lo Ca..."

Sore itu Dido memakai kaus hitam polos favoritnya sembari melambaikan tangannya pada Caca.

Hingga sore dijemput malam sepertinya tak henti-henti nya senyum mengembang di wajah Caca. Begitu pula Dido, ia selalu tersenyum. Tipis, seperti biasanya.

"Ca abis gini kita kemana?"

"Malioboro!!!!" jawab Caca semangat sambil mengaitkan helm di kepalanya hingga terdengar bunyi 'click'.

"Ca lo seneng banget ya ketemu sama gue."

"Ah.. Gede rasa lu, Do!!"
Masih saja Caca berkilah padahal jelas-jelas cahaya matanya mengatakan semua.

"Lo sering ya, Do, ke sini. Jarang-jarang lo ngajak gua ke tempat yang kek gini."

"Gua seneng lagi, Ca, di sini rame. Orang gabakal peduli sama masalah kita."

"Maksud lo, Do?"

"Lihat deh, mereka semua ke sini buat seneng-seneng, ngobrol, bahkan sama orang yang gapernah mereka kenal."

"Then?"

"Mereka lupa, Ca, kalo mereka tadi ke sini bawa masalah mereka sendiri-sendiri. Dan pas mereka udh di sini, mereka ngelupain semua masalah mereka. Bentar emang, Ca, tapi cukup lah buat ngasih mereka ketenangan sebelum balik ke kenyataan."

Tidak sempat Caca menanggapi Dido, dua cangkir kopi hangat sudah tersaji di depannya. Lama sebelum akhirnya Dido memulai kembali pembicaraan mereka.

"Gue mau ngomong, Ca."

"Gue juga, Do."

"Lo dulu deh,Ca." kata Dido dibalas dengan senyum Caca yang mengisyaratkan agar Dido berbicara terlebih dulu.

"Ca.. Gue kira kita selama ini cuma sahabat."

"Ya?" jawab Caca sedatar yang ia bisa sambil menahan detak jantungnya agar tidak terdengar sampai Dido.

"Gua gabisa, Ca. Gua takut nyakitin lo. Gua ngerti lo ga cuma nganggep gua sahabat dan gua gabisa bales semua itu ke lo, Ca."

"Maaf, Ca, lo kudu janji gausah nangisin gua lagi. Gua ga lebih berharga dari air mata lo, Ca. Gua gamau lo terus-terusanan berharap sama orang yang salah kayak gua ini, Ca."

Caca masih diam memegang cangkir kopi yang sudah tidak terasa panas lagi. 

Tebakan Dido 100% benar. Caca memang sudah tidak lagi menganggap Dido sahabatnya. 

Satu dua tiga detik ia berusaha sekuat tenaga menghirup sebanyak-banyaknya udara yang terasa sesak di dadanya.

Percuma. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Caca. 

"Lo mau ngomong apa, Ca?"

"Ha? Gue?"
Masih ia tamat-tamatkan dingin malam kota Yogya yang sepintas kalah dingin dengan kata-kata Dido.

"Gue harus balik 2 jam lagi, Do. Kereta gue jam 4 pagi. Tadinya gue mikir lo yang bakal anterin gua tapi kayaknya deket deh, Do. Mending gue sendiri aja."

"Ca, lo yakin mau ke sana sendiri?"

"Deket kali, Do. Gua juga bisa sendiri."

"Lu nggapapa, Ca?"

Segera Caca membalas kata-kata Dido dengan senyum tipis. Sebelum Dido tau ada yang akan menetes di mata Caca.

"Gue balik ya, Do." sapa terakhir Caca sambil mengamit tasnya dan membelakangi Dido.

"Ca, Lo ngga nangis kan?"

Tanpa jawaban, Caca hanya bisa berbalik, tersenyum smbil menyentuh lengan Dido. Sebentar, sebelum Caca benar-benar pergi.

Tanpa usaha. Dido tidak sedikitpun menahan Caca yang mulai hilang di persimpangan jalan.

Entah sudah berapa langkah Caca menjauh dari kedai kopi kesukaan Dido. Yang ia tahu perasannya masih sama. Dekat, namun mulai pahit seperti tegukan kopi terakhirnya yang pekat.


°°°°°°°°°°°°°


"Lo yang gila Rein." balas Caca tanpa sedikit pun memalingkan matanya dari kopi hitam di depannya.


Kedai kopi. Apa pun kedai kopinya, mata Caca akan selalu menerawang jauh. Berandai-andai menemui seseorang yang terakhir kali ia lihat di kota ini.


"Kedai kopi. Dua cangkir kopi hitam. Aku tahu kenapa kau memesankannya untukku. Kau tak ingin aku larut dalam pahitku. Hingaa berusaha menyamarkan nya dalam cangkir dan kata-katamu." kata Caca pelan dalam hati hingga tak ada satupun yang memedulikannya.

Apa kabar dia?

"Apakabar dia?" 
Tanya Caca, sahabatku, seolah menggoda.

"Baik..."

"Darimana kau tahu? Kau pasti masih menghubunginya ya... Mengaku saja lah hihihi" 
Memang sahbatku yang satu ini terlewat sok tahu. Apalagi setelah terkena demam Dilan, semakin menjadi-jadilah dia, hihihi.

"Tidak, Caca..."

"Sudahlah ayo mengaku... Sebelum...." 
Hampir saja semua mata tertoleh padaku dan Caca, untung segera ku injak kakinya dari kolong meja.

"Sebelum apa??? Kau mau melihat sendiri... Kalau memang tidak ada ya tidak ada Caaaa' " 
Kataku sambil memanjangankan namanya hingga terdengar seperti 'cak' hahah iya 'kang becak'. Dia selalu sebal kalau aku memanggilnya seperti itu. Hahaha biarkan saja...

"Lalu kenapa kau yakin sekali kalau dia baik-baik saja?"
Caca caca.... Sudah sok tahu, kepo lagi. Untung dia masih sahabatku. Tidak tahu nanti sore. hahaha, ca, sepertinya aku tertular demam Dilanmu sekarang.

Aku diam saja, tersenyum. Sebelum kudengar lagi pertanyaan Caca yang berapi-api seperti mercon malam Lebaran.

"Ayo... Jawab... Kau pasti suka menghubunginya, melihat timline nya, mengintip akun pacar barunyaaa... Ya kan, ya kan..."
Ingin sekali kukuncrit bibir sahabatku ini...

"Jelas aku yakin Ca.. Dia baik-baik saja karena dia tidak sedang menghubungiku."
Hahaha sekarang ganti Caca yang melongo, mulutnya terbuka membentuk huruf  'A' tanda tak mengerti kata-kataku.

"Susah ya ngomong sama kamu. Kalau dia baik-baik dia tidak akan menghubungiku, Ca. Lain kalau dia sedang berantakan. Aku orang pertama yang dia cari."
Tandasku mantap, sambil mencari nafasku yang tiba-tiba hilang di akhir kalimat.



Sewindu, Kisah bukan Lagu

Hampir dini hari, kutulis ini,
Bukan berarti aku sedang merindumu
Aku hanya tertarik menuliskanmu dalam frasaku

Hampir lebih setahun
Setelah aku bertemu orang yang separas denganmu
Mengenakan kemeja putih biru
Kacamata dengan gagang seperti milikmu
Di kota yang sama saat kita pernah bersama
Aku melihatmu dari balik tubuh orang itu

Bila tak kutamatkan
Mungkin sudah lebih dari setengah windu Aku menahanmu dalam rasaku

Kukira lagu-lagu cinta itu tak nyata
Menyebutkan cinta diam yang gila
Menahanya hingga 8 tahun lamanya

Hingga aku sendiri yang jadi lakonnya
Lebih dari setengah windu,
Menahannya dari satu sisi saja
Hingga akhirnya kutamatkan rasanya,
Aku percaya
Cinta sewindu itu memang ada