Mimpi Pertama di Tahun 2022
"I tought getting married early is my best revenge."
"I tought getting married early is my best revenge."
"Hey.. kamu di rumah, kan?"
"Hah? Iya?" Kataku gelagapan, karena di luar hujan dan sekarang sudah ada Dido berdiri di depan rumahku
"Kamu.. Kok ga ngasih tahu kalau mau mampir!!"
"Ah aku tadi juga gaada niatan cuma abis dari rumah Dea aja.. Eh trus keujanan yaudah deh ke sini."
"Ohh jadi abis dari Dea" kataku sambil menyenggol badan Dido, lucu
"Terus apa katanya?" Tanyaku tiba-tiba
"Ha katanya gimana?" Jawab Dido sedikit tergagap
"Lu mau ngapain lagi di hari ulangtahunnya Dea, kalau ga ngucapin ulangtahun, beliin sesuatu. Alah.. Udah ketebak lagi Did kelakuan lo hahah"
"Ah sial, Lu, Ca"
"Hm.. iya trus gimana, Did? Berhasil?"
"Berhasil apanya woy, Ca??" Kata Dido tidak ingin mengatakan sejujurnya walau ia sudah tahu kemana arah perbincangan ini menuju..
"Balikan kagak?"
"Nahh itu dia, Ca.." Kata Dido sengaja menahan kalimat akhirnya
Kuberi jeda pada Dido agar dia melanjutkan perkataannya bila dia memang ingin.
"Katanya sih susah, Ca. Buat bukain pintu lagi.."
"Hemm ya lagian Lu sih.."
"Ah gatau deh rumit, Ca.."
"Kayaknya kalau diluar ga tiba-tiba ujan, lu gamungkin inget gue kali ya, Did!"
"Hahahaha" Ketawa Dido seakan mengiyakan. Ingin rasanya kulempar Dido dengan bantal kursi tapi rasaya lebih cocok kalau dilempar sekaligus kursinya saja. Hahaha dasar tamu yang tidak tahu diri.
_________________________
Sejak dulu Caca memang selalu menjadi tempat Dido pulang setelah dari patah hati satu ke patah hati yang lainnya.
Pertunjukan Sirkus Terbaik
Lima dari tujuh hari dalam seminggu
selalu kami habiskan untuk berlatih. Mulai dari hal-hal yang tanpa perlu tenaga
hingga gerakan-gerakan yang membutuhkan perhatian yang lebih ekstra. Bagian termudahnya
adalah hanya dengan berdiri kemudian semua mata mulai memandangi kami. Tak perlu
tunggu waktu lama, riuh tepuk tangan mereka saling memburu sambil sekali-dua
kali mereka berdecak. Kagum, pikir kami.
Perkenalkan, Aku Clara. Nama yang
ibuku berikan sejak aku berumur 2 tahun. Aku terbiasa menjadi pusat perhatian
sejak kecil. Tak khayal ibu memberiku nama “Clara” yang berarti terang,
terkenal, ah apapunlah itu, terserah ibu saja. Semakin besar tugasku semakin
ringan. Hanya mengajak teman-temanku berdansa mengelilingi kebun bunga yang
sudah kami set sedemikian rupa. Namun rasanya setiap pertunjukan dimulai aku
yang paling tidak bahagia. Mari, kuajak
kalian berkenalan dengan teman-temanku!
Namanya Pak Edu, kami semua sudah
menganggapnya Ayah. Bagaimana tidak, kami atau lebih tepatnya beberapa diantara
kami tidak pernah tahu bagaimana rupa orangtua kami. Yang kami tahu Pak Edu
selalu mengajari kami ‘tuk bersikap ramah, ringan tangan kepada sesama, dan
tidak boleh berbohong. Hangat matanya sudah cukup membuat kami lupa kalau kami
tidak pernah merasakan rumah.
Kalau yang ini namanya Lily. Nama yang indah bukan? Indah sebelum kalian tahu mengapa kami memanggilnya Lily. Lily terlahir dengan 4 tangan dan 4 kaki, sehingga kali pertama kami melihatnya menangis sambil menunjukan kaki dan tangannya, kami selalu teringat akan bunga Lily yang baru saja lepas dari kelopaknya. Ditambah lagi dengan kulit Lily yang berwarna kuning bersih, semakin membuatnya cantik, persis seperti bunga Lily. Dia lah salah satu orang yang kuceritakan paling mudah mendapatkan riuh tepuk tangan. Orang-orang berdecak melihatnya karena ia berbeda. Tapi kami selalu berkata bahwa mereka menepuk tangani Lily karena Lily hebat. Tak banyak orang yang mau memiliki tubuh seperti Lily, walau tahu akan selalu ditepuk tangani.
Berikutnya adalah Dudu. Ia berusia 5
tahun lebih tua dariku, tapi ia tidak pernah mau kalau kupanggil kakak. Menurut
kami, tugas Dudu lebih ringan daripada kami semua. Bagaimana tidak, ia selalu
mengenakan make-up tebal, lengkap dengan lipstick berwarna merah yang sengaja
dilebarkan dan ditarik ke atas. Tentu nanti kau akan tahu bahwa make-up yang
dipakainya lah yang meperingan tugasnya. Setidaknya setiap kali ia harus tampil
di atas panggung. Dan teman-temanku yang lainnya, mungkin tak akan bisa lengkap
kusebutkan. Separuh dari mereka berusia dibawahku dan sisanya, setidaknya
berusia seperti aku dan Dudu.
Malam ini seperti biasa, setelah kami
merasakan suasana di kota baru selama 2 hari, esok hari kami harus beratraksi
lagi. Pak Edu selalu mengingatkan kami untuk menyalakan tombol itu ketika nanti
kami naik ke atas panggung. Dan setelahnya? Pak Edu membiarkan kami memilih
untuk mematikannya atau tidak. Namun biasanya kami memilih untuk tetap
menyalakannya. Sudah terbiasa.
Seperti biasa, nanti aku akan memulai
pertunjukan sirkus dengan bernyanyi. Kemudian dilanjutkan dengan berlari-lari,
tentunya tak lupa mengajak teman-teman kecilku untuk untuk menari bersama. Ups,
aku lupa teman-teman kecilku sebenarnya berusia sama sepertiku, hanya saja
tubuhnya membuat kami selalu memanggilnya kecil. Setiap tirai akan ditutup,
kami pastikan riuh penonton selalu memenuhi ruangan. Jujur, aku tidak pernah tahu
mengapa mereka bisa tertawa. Apakah karena pertunjukan sirkus kami? Atau aku
curiga mereka hanya sedang menertawai keadaan kami yang berbeda yang tidak seberuntung
mereka. Mungkin mereka tenggelam dalam kepuasan dan disinilah mereka merasa
lebih unggul, lebih bahagia, dan lebih apapun daripada kami.
Lain lagi kalau aku bertanya pada
Dudu. Setiap kali naik ke atas panggung, aku yakin tidak pernah melihat Dudu
tersenyum. Tapi sekembalinya dari menghibur penonton, ia selalu tersenyum. Bahagia
karena sudah menjadi alasan oranglain untuk berbahagia, katanya. Ah, setidaknya
aku sedikit benar. Make-up tebal itu selalu membantunya terlihat lucu walau ia
belum menarik bibirnya ke kanan dan ke kiri sepanjang 2 cm dan menahannya dalam
7 detik seperti ajaran Pak Edu.
Pada akhir pertunjukan aku akan tampil
lagi, kali ini mengelilingi set istana dengan teman-temanku di belakangnya. Bersyukur
karena tinggal di istana dengan suguhan pertunjukan yang tidak biasa, setidaknya
pembawaan itu yang harus kutunjukkan di bagian akhir acara. Ah, sial, semua ini
palsu. Senyum yang tersungging di wajah teman-temanku tidak pernah berarti
sesederhana itu. Apalagi bagi Lexis, pertunjukan sirkus sudah seperti ajang
untuk menantang malaikat pencabut nyawa baginya. Bagaimana tidak, ia harus
bergelantungan dari cincin satu ke cincin lain dan ditutup dengan masuk melewati
sebuah cincin yang berukuran lima kali lebih sempit dengan api menyala-nyala
yang siap menghanguskan tubuhnya. Ya, semua ini palsu, kecuali rasa sykurku memilki
mereka.
Ingatkah kau tentang tombol yang
selalu diingatkan oleh Pak Edu? Tombol itu adalah perasaan sedih, kecewa, tidak
diterima, dan berbeda. Kami selalu dibiasakan untuk menyalakan tombol tersenyum,
bahagia, dan tertawa setidaknya setiap kali kami akan naik ke atas panggung. Akibatnya
apa? Kami lupa kapan kali mengganti tombolnya ke mode sedih dan kecewa. Kami lupa
kapan kali terakhir kami bersedih karena orang-orang memandangi kami lebih lama.
Yang kami tahu, kami selalu berhasil membuat mereka tertawa. Dan sekali lagi,
aku berdoa, andai aku diberi make-up tebal seperti Dudu. Rasanya aku tak perlu
menganggap tertawa adalah beban,
Pertunjukkan esok malam, akan menjadi
pertunjukan terakhir kami di tahun ini. Pak Edu memberikan kami ekstra snack,
agar kami lebih semangat berlatih katanya. Namun rasanya kami sudah mulai
besar. Walau sudah terlalu lama tumbuh dengan perasaan palsu seperti ini, rasanya
aku, Lily, Dudu, dan Lexis belum kehilangan nalar waras kami. Tawa-tawa kami
semakin mengeringkan tulang kami sendiri. Menantang maut dan menjual diri sepanjang
tahun rasanya tidak pernah sebanding dengan mereka yang duduk sekali, tertawa,
kemudian pergi. Kami ingin bersedih. Tapi kami sudah kehilangan cara untuk memeluk
semua rasa itu kembali. Muka kami sudah teralu tebal. Kami kira menertawai
adalah bagian dari cara mereka menghargai kami, sampai kami lupa seberharga apa
diri kami sendiri.
Kini setelah kami tertidur sekali
lagi. Membiarkan pagi menjadi malam hari. Kami akan memulai sejarah baru kami. Tidak
ada lagi pertunjukkan Lexis masuk ke dalam cincin api atau Lily yang berjalan sambil
membentuk tubuh seperti sebuah meja kayu. Tidak ada lagi nyanyian cemerlang Clara,
atau riasan tebal di wajah Dudu. Malam ini, kami mencoba menjadi diri kami
sendiri. Tidak ada lagi riuh tepuk tangan yang memenuhi ruangan. Semua penonton
kecewa, tetapi disaat inilah kami mulai menemukan keberhargaan. Hari ini Clara
tak tertawa, tapi aku berbahagia.
© Copyright 2014 Lewat Batas Senja / Created by ThemeXpose