Pertunjukan Sirkus Terbaik

19.38 0 Comments

 

Pertunjukan Sirkus Terbaik

          Lima dari tujuh hari dalam seminggu selalu kami habiskan untuk berlatih. Mulai dari hal-hal yang tanpa perlu tenaga hingga gerakan-gerakan yang membutuhkan perhatian yang lebih ekstra. Bagian termudahnya adalah hanya dengan berdiri kemudian semua mata mulai memandangi kami. Tak perlu tunggu waktu lama, riuh tepuk tangan mereka saling memburu sambil sekali-dua kali mereka berdecak. Kagum, pikir kami.


          Perkenalkan, Aku Clara. Nama yang ibuku berikan sejak aku berumur 2 tahun. Aku terbiasa menjadi pusat perhatian sejak kecil. Tak khayal ibu memberiku nama “Clara” yang berarti terang, terkenal, ah apapunlah itu, terserah ibu saja. Semakin besar tugasku semakin ringan. Hanya mengajak teman-temanku berdansa mengelilingi kebun bunga yang sudah kami set sedemikian rupa. Namun rasanya setiap pertunjukan dimulai aku yang paling tidak bahagia.  Mari, kuajak kalian berkenalan dengan teman-temanku!


          Namanya Pak Edu, kami semua sudah menganggapnya Ayah. Bagaimana tidak, kami atau lebih tepatnya beberapa diantara kami tidak pernah tahu bagaimana rupa orangtua kami. Yang kami tahu Pak Edu selalu mengajari kami ‘tuk bersikap ramah, ringan tangan kepada sesama, dan tidak boleh berbohong. Hangat matanya sudah cukup membuat kami lupa kalau kami tidak pernah merasakan rumah.


          Kalau yang ini namanya Lily. Nama yang indah bukan? Indah sebelum kalian tahu mengapa kami memanggilnya Lily. Lily terlahir dengan 4 tangan dan 4 kaki, sehingga kali pertama kami melihatnya menangis sambil menunjukan kaki dan tangannya, kami selalu teringat akan bunga Lily yang baru saja lepas dari kelopaknya. Ditambah lagi dengan kulit Lily yang berwarna kuning bersih, semakin membuatnya cantik, persis seperti bunga Lily. Dia lah salah satu orang yang kuceritakan paling mudah mendapatkan riuh tepuk tangan. Orang-orang berdecak melihatnya karena ia berbeda. Tapi kami selalu berkata bahwa mereka menepuk tangani Lily karena Lily hebat. Tak banyak orang yang mau memiliki tubuh seperti Lily, walau tahu akan selalu ditepuk tangani.


            Berikutnya adalah Dudu. Ia berusia 5 tahun lebih tua dariku, tapi ia tidak pernah mau kalau kupanggil kakak. Menurut kami, tugas Dudu lebih ringan daripada kami semua. Bagaimana tidak, ia selalu mengenakan make-up tebal, lengkap dengan lipstick berwarna merah yang sengaja dilebarkan dan ditarik ke atas. Tentu nanti kau akan tahu bahwa make-up yang dipakainya lah yang meperingan tugasnya. Setidaknya setiap kali ia harus tampil di atas panggung. Dan teman-temanku yang lainnya, mungkin tak akan bisa lengkap kusebutkan. Separuh dari mereka berusia dibawahku dan sisanya, setidaknya berusia seperti aku dan Dudu.

          Malam ini seperti biasa, setelah kami merasakan suasana di kota baru selama 2 hari, esok hari kami harus beratraksi lagi. Pak Edu selalu mengingatkan kami untuk menyalakan tombol itu ketika nanti kami naik ke atas panggung. Dan setelahnya? Pak Edu membiarkan kami memilih untuk mematikannya atau tidak. Namun biasanya kami memilih untuk tetap menyalakannya. Sudah terbiasa.

          Seperti biasa, nanti aku akan memulai pertunjukan sirkus dengan bernyanyi. Kemudian dilanjutkan dengan berlari-lari, tentunya tak lupa mengajak teman-teman kecilku untuk untuk menari bersama. Ups, aku lupa teman-teman kecilku sebenarnya berusia sama sepertiku, hanya saja tubuhnya membuat kami selalu memanggilnya kecil. Setiap tirai akan ditutup, kami pastikan riuh penonton selalu memenuhi ruangan. Jujur, aku tidak pernah tahu mengapa mereka bisa tertawa. Apakah karena pertunjukan sirkus kami? Atau aku curiga mereka hanya sedang menertawai keadaan kami yang berbeda yang tidak seberuntung mereka. Mungkin mereka tenggelam dalam kepuasan dan disinilah mereka merasa lebih unggul, lebih bahagia, dan lebih apapun daripada kami.

          Lain lagi kalau aku bertanya pada Dudu. Setiap kali naik ke atas panggung, aku yakin tidak pernah melihat Dudu tersenyum. Tapi sekembalinya dari menghibur penonton, ia selalu tersenyum. Bahagia karena sudah menjadi alasan oranglain untuk berbahagia, katanya. Ah, setidaknya aku sedikit benar. Make-up tebal itu selalu membantunya terlihat lucu walau ia belum menarik bibirnya ke kanan dan ke kiri sepanjang 2 cm dan menahannya dalam 7 detik seperti ajaran Pak Edu.

          Pada akhir pertunjukan aku akan tampil lagi, kali ini mengelilingi set istana dengan teman-temanku di belakangnya. Bersyukur karena tinggal di istana dengan suguhan pertunjukan yang tidak biasa, setidaknya pembawaan itu yang harus kutunjukkan di bagian akhir acara. Ah, sial, semua ini palsu. Senyum yang tersungging di wajah teman-temanku tidak pernah berarti sesederhana itu. Apalagi bagi Lexis, pertunjukan sirkus sudah seperti ajang untuk menantang malaikat pencabut nyawa baginya. Bagaimana tidak, ia harus bergelantungan dari cincin satu ke cincin lain dan ditutup dengan masuk melewati sebuah cincin yang berukuran lima kali lebih sempit dengan api menyala-nyala yang siap menghanguskan tubuhnya. Ya, semua ini palsu, kecuali rasa sykurku memilki mereka.


          Ingatkah kau tentang tombol yang selalu diingatkan oleh Pak Edu? Tombol itu adalah perasaan sedih, kecewa, tidak diterima, dan berbeda. Kami selalu dibiasakan untuk menyalakan tombol tersenyum, bahagia, dan tertawa setidaknya setiap kali kami akan naik ke atas panggung. Akibatnya apa? Kami lupa kapan kali mengganti tombolnya ke mode sedih dan kecewa. Kami lupa kapan kali terakhir kami bersedih karena orang-orang memandangi kami lebih lama. Yang kami tahu, kami selalu berhasil membuat mereka tertawa. Dan sekali lagi, aku berdoa, andai aku diberi make-up tebal seperti Dudu. Rasanya aku tak perlu menganggap tertawa adalah beban,

          Pertunjukkan esok malam, akan menjadi pertunjukan terakhir kami di tahun ini. Pak Edu memberikan kami ekstra snack, agar kami lebih semangat berlatih katanya. Namun rasanya kami sudah mulai besar. Walau sudah terlalu lama tumbuh dengan perasaan palsu seperti ini, rasanya aku, Lily, Dudu, dan Lexis belum kehilangan nalar waras kami. Tawa-tawa kami semakin mengeringkan tulang kami sendiri. Menantang maut dan menjual diri sepanjang tahun rasanya tidak pernah sebanding dengan mereka yang duduk sekali, tertawa, kemudian pergi. Kami ingin bersedih. Tapi kami sudah kehilangan cara untuk memeluk semua rasa itu kembali. Muka kami sudah teralu tebal. Kami kira menertawai adalah bagian dari cara mereka menghargai kami, sampai kami lupa seberharga apa diri kami sendiri.

          Kini setelah kami tertidur sekali lagi. Membiarkan pagi menjadi malam hari. Kami akan memulai sejarah baru kami. Tidak ada lagi pertunjukkan Lexis masuk ke dalam cincin api atau Lily yang berjalan sambil membentuk tubuh seperti sebuah meja kayu. Tidak ada lagi nyanyian cemerlang Clara, atau riasan tebal di wajah Dudu. Malam ini, kami mencoba menjadi diri kami sendiri. Tidak ada lagi riuh tepuk tangan yang memenuhi ruangan. Semua penonton kecewa, tetapi disaat inilah kami mulai menemukan keberhargaan. Hari ini Clara tak tertawa, tapi aku berbahagia.    


0 komentar: