Tentang Dido dan Caca (jauh sebelum kejadian di kedai kopi Malioboro)
"Hey.. kamu di rumah, kan?"
"Hah? Iya?" Kataku gelagapan, karena di luar hujan dan sekarang sudah ada Dido berdiri di depan rumahku
"Kamu.. Kok ga ngasih tahu kalau mau mampir!!"
"Ah aku tadi juga gaada niatan cuma abis dari rumah Dea aja.. Eh trus keujanan yaudah deh ke sini."
"Ohh jadi abis dari Dea" kataku sambil menyenggol badan Dido, lucu
"Terus apa katanya?" Tanyaku tiba-tiba
"Ha katanya gimana?" Jawab Dido sedikit tergagap
"Lu mau ngapain lagi di hari ulangtahunnya Dea, kalau ga ngucapin ulangtahun, beliin sesuatu. Alah.. Udah ketebak lagi Did kelakuan lo hahah"
"Ah sial, Lu, Ca"
"Hm.. iya trus gimana, Did? Berhasil?"
"Berhasil apanya woy, Ca??" Kata Dido tidak ingin mengatakan sejujurnya walau ia sudah tahu kemana arah perbincangan ini menuju..
"Balikan kagak?"
"Nahh itu dia, Ca.." Kata Dido sengaja menahan kalimat akhirnya
Kuberi jeda pada Dido agar dia melanjutkan perkataannya bila dia memang ingin.
"Katanya sih susah, Ca. Buat bukain pintu lagi.."
"Hemm ya lagian Lu sih.."
"Ah gatau deh rumit, Ca.."
"Kayaknya kalau diluar ga tiba-tiba ujan, lu gamungkin inget gue kali ya, Did!"
"Hahahaha" Ketawa Dido seakan mengiyakan. Ingin rasanya kulempar Dido dengan bantal kursi tapi rasaya lebih cocok kalau dilempar sekaligus kursinya saja. Hahaha dasar tamu yang tidak tahu diri.
_________________________
Sejak dulu Caca memang selalu menjadi tempat Dido pulang setelah dari patah hati satu ke patah hati yang lainnya.
.png)







0 komentar: