Kedai Kopi

03.13 0 Comments

"Hey.... Ca, Ca... Lu nggapapa,Ca?"
Kedua matanya menerawang jauh, menelisik satu per satu kedai yang mulai meremang di sepanjang Jalan Malioboro. Ia coba memandang, menembus gerimis, seolah bisa melihat jelas cahaya dari balik kaca mobil yang mulai berembun.

"Eh.. Iya, nggapapa, kenapa?" jawab Caca seadanya, setelah tubuhnya beberapa kali digoyang-goyangkan oleh Rein. 

"Harusnya kita tau, Ca, yang tanya Lo kenapa. Lo tau nggak sih, kita udah takut aja Lo ketempelan abis dari alun-alun tadi. Lu nggapapa Ca? Lu laper lagi?"

"Ha? Nggak.. Eh gausah.."
Terlambat. Mobil Mini Cooper Bimo sudah berbaris diantara celah-celah mobil lain di sisi belakang Jalan Malioboro.

Kiara sengaja melingkarkan tangan kanannya ke tangan kiri Caca.

"Ca lo nggapapa? Cerita sama gue deh Ca.."

Lama Caca menatap mata Kiara dalam, sebelum ia menyebutkan nama seseorang yang jelas-jelas dikenal Kiara.

"Dido, Ra."

"Lo mau makan apa, Ca? Ketan bubuk? Ketan durian? STMJ?" tanya Kiara seolah tak mendengar jawaban Caca, tepat di depan kedai kopi sederhana yang ramai pemuda pemudi yang saling tenggelam dalam percakapannya.

"Lo kenapa, Ca? Dido lagi?" tebak Bimo dengan tatapan kasihan.

"Udah lah Ca, lagian ngapain mikirin Dido.. Lagian dari dulu dia masih Dido aja... Kapan Dire nya apalagi Difa? Hahahaha"

Kali ini tidak ada yang menertawai candaan Rein. Keterlaluan, semua menatap Rein. Hambar, tidak lucu.

"Ca dengerin gue. Kejadian itu kan udah taun lalu. Dan lo sendiri yang udah janji sama kita gabakal inget inget Dido lagi kalau kita ke kota ini."

"Mungkin nggak sih, Ra, kalau Dido ada di sekitar sini." jawab Caca datar seolah menganggap angin lalu semua nasehat mereka.

Satu tahun memang tidak sebentar tapi tidak cukup rasanya melupakan Dido bagi Caca.

"Lo gila, Ca."

"Rein..." balas Kiara sambil menatap Rein tajam.


°°°°°°°°°°°°°

"Do gua udah di sini nih... Lu dimana?"

"Gua di belakang lo Ca..."

Sore itu Dido memakai kaus hitam polos favoritnya sembari melambaikan tangannya pada Caca.

Hingga sore dijemput malam sepertinya tak henti-henti nya senyum mengembang di wajah Caca. Begitu pula Dido, ia selalu tersenyum. Tipis, seperti biasanya.

"Ca abis gini kita kemana?"

"Malioboro!!!!" jawab Caca semangat sambil mengaitkan helm di kepalanya hingga terdengar bunyi 'click'.

"Ca lo seneng banget ya ketemu sama gue."

"Ah.. Gede rasa lu, Do!!"
Masih saja Caca berkilah padahal jelas-jelas cahaya matanya mengatakan semua.

"Lo sering ya, Do, ke sini. Jarang-jarang lo ngajak gua ke tempat yang kek gini."

"Gua seneng lagi, Ca, di sini rame. Orang gabakal peduli sama masalah kita."

"Maksud lo, Do?"

"Lihat deh, mereka semua ke sini buat seneng-seneng, ngobrol, bahkan sama orang yang gapernah mereka kenal."

"Then?"

"Mereka lupa, Ca, kalo mereka tadi ke sini bawa masalah mereka sendiri-sendiri. Dan pas mereka udh di sini, mereka ngelupain semua masalah mereka. Bentar emang, Ca, tapi cukup lah buat ngasih mereka ketenangan sebelum balik ke kenyataan."

Tidak sempat Caca menanggapi Dido, dua cangkir kopi hangat sudah tersaji di depannya. Lama sebelum akhirnya Dido memulai kembali pembicaraan mereka.

"Gue mau ngomong, Ca."

"Gue juga, Do."

"Lo dulu deh,Ca." kata Dido dibalas dengan senyum Caca yang mengisyaratkan agar Dido berbicara terlebih dulu.

"Ca.. Gue kira kita selama ini cuma sahabat."

"Ya?" jawab Caca sedatar yang ia bisa sambil menahan detak jantungnya agar tidak terdengar sampai Dido.

"Gua gabisa, Ca. Gua takut nyakitin lo. Gua ngerti lo ga cuma nganggep gua sahabat dan gua gabisa bales semua itu ke lo, Ca."

"Maaf, Ca, lo kudu janji gausah nangisin gua lagi. Gua ga lebih berharga dari air mata lo, Ca. Gua gamau lo terus-terusanan berharap sama orang yang salah kayak gua ini, Ca."

Caca masih diam memegang cangkir kopi yang sudah tidak terasa panas lagi. 

Tebakan Dido 100% benar. Caca memang sudah tidak lagi menganggap Dido sahabatnya. 

Satu dua tiga detik ia berusaha sekuat tenaga menghirup sebanyak-banyaknya udara yang terasa sesak di dadanya.

Percuma. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Caca. 

"Lo mau ngomong apa, Ca?"

"Ha? Gue?"
Masih ia tamat-tamatkan dingin malam kota Yogya yang sepintas kalah dingin dengan kata-kata Dido.

"Gue harus balik 2 jam lagi, Do. Kereta gue jam 4 pagi. Tadinya gue mikir lo yang bakal anterin gua tapi kayaknya deket deh, Do. Mending gue sendiri aja."

"Ca, lo yakin mau ke sana sendiri?"

"Deket kali, Do. Gua juga bisa sendiri."

"Lu nggapapa, Ca?"

Segera Caca membalas kata-kata Dido dengan senyum tipis. Sebelum Dido tau ada yang akan menetes di mata Caca.

"Gue balik ya, Do." sapa terakhir Caca sambil mengamit tasnya dan membelakangi Dido.

"Ca, Lo ngga nangis kan?"

Tanpa jawaban, Caca hanya bisa berbalik, tersenyum smbil menyentuh lengan Dido. Sebentar, sebelum Caca benar-benar pergi.

Tanpa usaha. Dido tidak sedikitpun menahan Caca yang mulai hilang di persimpangan jalan.

Entah sudah berapa langkah Caca menjauh dari kedai kopi kesukaan Dido. Yang ia tahu perasannya masih sama. Dekat, namun mulai pahit seperti tegukan kopi terakhirnya yang pekat.


°°°°°°°°°°°°°


"Lo yang gila Rein." balas Caca tanpa sedikit pun memalingkan matanya dari kopi hitam di depannya.


Kedai kopi. Apa pun kedai kopinya, mata Caca akan selalu menerawang jauh. Berandai-andai menemui seseorang yang terakhir kali ia lihat di kota ini.


"Kedai kopi. Dua cangkir kopi hitam. Aku tahu kenapa kau memesankannya untukku. Kau tak ingin aku larut dalam pahitku. Hingaa berusaha menyamarkan nya dalam cangkir dan kata-katamu." kata Caca pelan dalam hati hingga tak ada satupun yang memedulikannya.

0 komentar: