Mimpi Pertama di Tahun 2022

20.23 0 Comments

 


"I tought getting married early is my best revenge."


Mobil putih bertumpangkan tiga orang ditambah satu kemudi melaju perlahan membelah jalanan pagi yang masih lengang. Aku mengenakan gaun putih yang nampaknya membalut cantik tubuhku. Hari ini hari pernikahanku, tapi entah apa rasa-rasanya aku tak mau tahu siapa yang akan memperistriku. Hari-hari ini rasanya kosong. Ya, lamarannya sudah kuterima sejak seminggu yang lalu tapi tebak, namanya saja kini aku tidak tahu. Aku tidak tahu nama pemuda itu. Aku tanya ibuku siapa nama calon suamiku. Tetap saja, namanya hanya berlalu di telingaku. Namun aku rasa aku punya sedikit ketidakcocokkan dengan orang itu. Ya, sedikit, hanya benih-benih tapi itupun karena aku tak mengenalnya lebih jauh.

Mobilku terus melaju, membawaku semakin dekat dengan venue pernikahanku. Aku bingung, kenapa baru sekarang otakku merespon bahwa ini hari pernikahanku dan aku tak seberapa tahu tentang dia yang akan berdiri di sebelahku nanti hingga kelak akhir helaan nafasku. Gawat.




Segera, setelah masuk gedung hari pernikahanku aku bertanya pada mereka sekenanya: dimana yang lainnya berada sebelum semua ini terlaksana. Termasuk calon suamiku. Tiba di lantai dua, aku hanya menemukan beberapa orang, tertidur dan nampaknya tak ada calon suamiku. Kini aku dengar namanya Raihan, nama yang berbeda dengan yang terbesit di kepalaku saat aku sedang berada di dalam mobilku. Tetap saja, aku tidak mengenal baik Raihan dan bagaimana aku ikhlas menyerahkan sebagian hidupku padanya. Mata dan otakku terus berputar mencari cara bagaimana menjelaskan pada orangtuaku bahwa ini bukan hari pernikahan yang ada di benakku. Sekilas, kulihat pantulanku dari cermin panjang di hadapnku. Gaun itu membalut cantik tubuhku, berwarna putih dari dada hingga menyapu lantai gedung itu. Sedikit bahan transparan membalut bagian atasnya namun tetap terlihat warna asli kulitku. Cantiknya tak cocok dengan isi kepalaku yang bingung. Linglung.


Akhirnya aku berhasil menemui ibuku. Kusampaikan maaf dan akal bodohku yang mau-mau saja hingga hari ini terlaksana dengan seijinku.  

"I tought getting married early is my best revenge (aku kira menikah secepat mungkin adalah balas dendam terbaikku) and that's all."

Hanya jawaban itu yang muncul di benakku sambil aku mengalihkan pandangku memutari sekeliling ruangan. 

"Maaf, untuk semuanya dan aku tak bisa melanjutkan hari pernikahanku bahkan hidup bersama dengan orang yang aku tak tahu apakah dia mencintaku. Apalagi aku." 

Aku tahu. Keputusan tanpa disertai solusi tidak akan datang sebagai sebuah pilihan bagi kami.
 
"Lakukan secantik mungkin, sehingga orang-orang tak tahu bahwa kau telah mengatakannya. Sehalus mungkin hingga mereka menyadari bahwa kau telah membatalkan pernikahannya."

Baik, permohonan ibuku terdengar tak sulit bagiku yang sudah sering menampilkan sesuatu dan kini harus di hari (yang tak jadi) pernikahanku. 

Turun ke lantai satu. Kutemui ibu yang akan (tak) menjadi calon mertuaku. Mereka sedang menikmati sebuah hidangan, bercakap-cakap hingga hadirku disadari sebagai calon anggota keluarganya yang baru. Pandangannya hangat menerimaku. Langsung saja, kutanya susunan acara pernikahanku. Mataku menyusur cepat kertas yang seketika sudah ada di tanganku. Wedding vow, ya aku harus membatalkannya sebelum hal itu terjadi. Kuingat lekat-lekat jamnya. Lalu aku kembali sembari sekilas menatap orangtua yang tak akan menjadi mertuaku. 

Di tengah perjalanan, saat aku berada di tangga aku melihat Fay, temanku yang nampaknya kini menjadi salah satu bagian orang penting yang mengurus makanan di hari pernikahanku. Kudengar bahwa yang akan menikahiku adalah orang kaya yang pernah satu kelas dengan kami. Siapa? Payah, bahkan di jam-jam menuju pernikahanku aku dan ibuku tak berhasil tahu persis siapa nama pemuda itu. Gila, ini aku yang sudah lama tenggelam dalam lamunan tidurku dan kini aku juga yang harus membereskan semua mimpiku.

Nampaknya aku benar-benar tertidur dalam mimpiku. Kini kutemui seseorang yang nampaknya berbaju cocok dengan perangaiku. Hans. Ternyata dia bernama Hans. Gila, pikirku. Sama saja, aku tak mengenalnya. 

"Apa kau mencintaiku?"
Tanyaku begitu saja dari balik punggungnya tanpa perlu perkata ba-bi-bu. Lintasan peristiwa berlalu seakan aku tahu, ini tidak akan menjadi hari pernikahan bagi kami.

Kini lampu gedung mulai dimatikan, aku tahu kini tiba saatnya giliranku. Aku harus mengalihkan perhatian hingga seluruh orang datang ke tempat dimana seharusnya aku mengucapkan janji pernikahanku. Entah bagaimana, kubawa lampu yang memecah gelap hingga semua orang menuju ke tempat itu.



~###~

Ta-raaa!! Aku terbangun dari mimpiku. Panggil saja perempuan tadi Titan. Walau ini mimpi, apa kau berhasil merasakan ketakutanku di hari itu? Banyak pelajaran yang bisa aku tahu walau itu hanya bagian dari mimpiku. Aku tak mengenal pemuda yang akan menikahiku, bahkan beberapa jam sebelum kami mengucapkan janji itu. Baju yang cantik tak selalu identik dengan perangaiku pada hari itu. Aku membiarkan diriku tertidur begitu lama, hingga mengijinkan luka-lukaku membuat pilihan atas masa depanku. Kalau kamu jadi aku di hari itu, seharusnya kau sudah bangun lama sebelum hari itu tiba. 

You don't have to prove anything to anyone. Cerita lamamu sudah berakhir di hari itu, perlombaan-perlombaan itu kini hanya nyata dalam khayalanmu. Kau tidak perlu membuat pilihan-pilihan bodoh hanya karena lukamu di masa lalu. Tenang, aku juga diingatkan kembali lewat mimpiku. Ini bukan aku yang berjalan tanpa membuat kesalahan dan ini aku yang ada bersama-sama kamu, menjalani cerita baru yang mungkin mimpiku dapat turut mengingatkanmu. Mungkin cerita-cerita kita berpotongan yang sama sebagai manusia yang hidup di dunia. Ingat, kau tak lagi hidup di zaman itu. Semua yang jatuh akan tumbuh, tangguh bila kau menyiraminya. Tergantung apa yang kau rawat setiap harinya, benihnya atau parasit di sekitarnya. Engkau sudah sembuh dan kini harus tumbuh. Berbahagialah!!

Salamku untukmu, 
saranku jangan tertidur terlalu lama dalam nyata yang hanya berlangsung dalam akalmu saja. 

Aku terpaksa bangun dari tidur dan tidak melanjutkan mimpiku karena harus vaksin, bebskuu. Wkwkw, See youu n ayafluu <3 :))

0 komentar: